Kamis, 06 Oktober 2011

Dr. Irina Among Praja dan Sekolah Anak Pemulung

Bekasi - Semenjak kecil rasa ingin tahu tentang banyak hal, membuat Dr. Irina Among Praja selalu bertanya tentang apa saja yang menurutnya menarik. Namun dirinya tidak pernah puas atas setiap jawaban yang dia dapat. Begitu pula ketika Ia meniti kehidupan kaum-kaum minoritas seperti anak-anak pemulung yang nasibnya kurang beruntung dalam dunia pendidikan. Di usia mereka seharusnya mendapat hak menikmati bangku sekolah seperti anak-anak Indonesia lainnya, bukan mengais-ngais sampah atau kardus bekas. Apa yang dilakukan Irina agar mereka bisa bersekolah?

Anak adalah anugerah terindah dari Sang Pencipta. Mereka hadir dalam kehidupan atas nama cinta. Perhatian dan kasih sayang adalah senjata untuk  menjadikan mereka generasi penerus bangsa yang memiliki nilai budi perkerti dan akhlak yang baik tentunya. Mulai dari lingkungan kecil seperti keluarga, hingga yang bersifat formal seperti sekolah, merupakan tempat dimana mereka seharusnya berada. Bukan di jalan.

Namun tidak semua generasi penerus bangsa ini memiliki kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah, terlebih lagi bagi mereka yang berasal  dari keluarga kurang mampu. Banyak di antaranya mereka yang harus membenam mimpi mereka untuk mendapat pendidikan, terutama bagi anak-anak mereka. Padahal sekolah adalah tempatnya mencetak ‘Habibie’ berikutnya. Miris memang disaat negeri ini sedang berbenah diri menghadapi persaingan global menuntut sumber daya manusia berkualitas, Indonesia yang katanya punya segalanya kalah bersaing dengan bangsa lain.

Berangkat dari keprihatinan dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap anak bangsa, Dr. Irina Among Praja mencoba memperbaiki sedikit demi sedikit akar masa depan bangsa ini. Berbagi untuk kaum yang terpinggirkan, mengajak anak-anak pemulung untuk bersekolah. Ya.. “Sekolah Kami” rumah dimana mereka mencari ilmu untuk bekal di masa depan berdiri tahun 2001 di Bintara, Bekasi.

Sekolah yang tadinya tempat pembuangan sampah ini, disulap mejadi ’istana’ para pemulung kecil oleh Irina. Siapa sangka dari tempat yang kotor dan bau, berdiri sebuah sekolah yang di dalamnya terasa kental aura kasih sayang dan ketulusan. Disinilah harapan anak bangsa yang tadinya tersingkirkan bisa menatap kembali masa depan mereka.

Sedikit bercerita, awalnya memang tidak mudah mengajak anak-anak pemulung ini untuk sekolah. “Yang ingin mereka sekolah ya aku, bukan mereka, kalau menunggu mereka mau sampai kapan harus menunggu. Karena mereka biasanya selalu menganggap sepele urusan pendidikan, khususnya para orang tua. Buat mereka yang penting tiap harinya kerja dan bisa makan, untuk apa sekolah lebih baik cari uang ” tegas Irina kepada Inijakarta.com dengan nada sedikit geregetan. Uniknya Irina punya cara tersendiri mengajak anak-anak pemulung untuk pergi sekolah. Mereka dijemput menggunakan mobil. Kenapa ? “Karena kalau tidak dijemput namanya pemulung jalan kaki ke sekolah lihat kardus dipungut, kapan sampainya.” Tambah Irina.

Kerja keras serta keikhlasan Irina bersama teman-teman bak setetes embun penyejuk di tengah kekeringan. Ketika sekolah-sekolah negeri dan swasta berlomba dalam biaya pendidikan, Irina justru menyelenggarakan pendidikan gratis. Sebanyak 120 siswa diajari membaca, menghitung, dan pelajaran umum lainnya, namun titik be­ratnya lebih ke pendidikan akhlak; kejujuran & sopan santun.

Kepolosan terlihat dari wajah mereka yang antusias mengikuti pelajaran dikelas. Sesekali canda tawa mewarnai tingkah laku mereka. Pada dasarnya mereka dididik untuk menjadi manusia yang beretika. ”Kita berusaha menjembatani anak-anak yang belum atau sudah untuk kembali ke sekolah. Mengerjakan apa yang mereka butuhkan dan kita mampu” ungkap wanita asal Bandung, Jawa Barat.

Selain itu, Irina membekali mereka dengan keterampilan seperti membuat pembersih lantai, sabun cair untuk cuci piring & cuci tangan. Juga membuat tas dari kertas daur ulang, kartu ucapan, belajar menjahit, membuat kue, dan membuat pupuk kompos. Hebat ya? Padahal Irina dan rekan mendidik anak-anak dengan sukarela alias  tanpa  digaji seperak pun.

”Belajar peduli pada orang lain terutama pada mereka yang membutuhkan itu memang tidak mudah. Padahal kan didalam harta kita ada 2.5% hak mereka kurang mampu. Sepertinya kita perlu sekali kali pakai bahasa hati untuk bisa mengerti arti sebuah makna.” tegas wanita 52 tahun ini. Usaha dan kerja keras serta kepedulian Irina terhadap pendidikan patut kita tiru. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?.

Alamat Sekolah Kami: Jl. Bintara Jaya IV Dalam Rt 9/3 Bekasi Barat
Alamat dr Irina: Jl. Cipinang Indah Raya E/3 A Jkt 13420 Telp. 021 850 4885

[ inijakarta.com ]

Senin, 26 September 2011

Pemulung di Kota Bandung Tak Punya Biaya Bikin KTP

Bandung - Para pemulung yang tinggal di Kota Bandung rata-rata mengaku tidak memiliki KTP Kota Bandung. Walhasil mereka juga tak memiliki surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk mendapatkan jaminan kesehatan.

"Saya senang dengan acara ini karena tidak punya uang untuk berobat dan tidak punya Jamkesmas," tutur Dewi (24) di sela-sela cek kesehatan dan pengobatan gratis di Jalan Asia Afrika Kota Bandung, Minggu (25/9/2011).

Dewi yang seorang pemulung itu mengaku bukan tidak mau memiliki KTP Kota Bandung. Namun karena tidak mempunyai uang, wanita asal Banten itu memilih tidak ber-KTP.

"Saya dan suami gak punya KTP, susah ngurusnya dan gak punya uang untuk mengurusnya," tuturnya yang baru satu tahun ini menjadi pemulung.

Hal yang sama diungkapkan Suliah (49). Wanita yang tinggal di bedeng-bedeng dekat rel kereta api kawasan Jalan Sumatera Kota Bandung tersebut mengaku sudah 15 tahun tinggal di tempat tersebut tanpa KTP.

"Saya aslinya dari Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, tetapi karena di sana banjir terus jadi saya pindah ke Kota Bandung. Saya gak punya KTP jadi ada pengobatan seperti ini senang saja. Enakan di sini meski hanya jadi pemulung dan tinggal di bedeng. Di tempat asal saya sudah tidak punya apa-apa lagi," tuturnya.

inilahjabar.com

Minggu, 25 September 2011

203 Pemulung di Bandung Ikut Pengobatan Gratis

Bandung - Sebanyak 203 pemulung mengikuti cek kesehatan dan pengobatan gratis yang digelar Yayasan Kontak Indonesia dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JKPM) Surya Sumirat, di kawasan Jalan Asia Afrika Kota Bandung, Minggu (25/9/2011).

"Tujuan acara yang rutin digelar 2 kali dalam setahun tersebut, untuk memerhatikan kesehatan para pemulung yang ada di Kota Bandung, dari tahun 2006 program ini telah digelar, telah terdata ada 800 pemulung yang masuk dalam data kami," tutur Direktur Program Yayasan Kontak Indonesia Endy Sulistiawan.

Pengobatan gratis tersebut diprioritaskan kepada para pemulung karena mereka mempunyai KTP Kota Bandung, berpindah-pindah tempat tinggal, dan berdekatan dengan penyakit.

"Rata-rata saat pengobatan dan cek kesehatan mereka mengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Meski diberikan secara gratis, banyak yang tidak mau memeriksakan diri. Sekarang saja dari 300 orang yang terdata hanya 203 orang yang ikut untuk di cek kesehatannya," imbuhnya.

Selain pengobatan dan cek gratis, pihaknya seringkali melakukan penyuluhan terkait masalah keamanan dan kesehatan kerja di tempat pembuangan sampah (TPS).

"Kami sering memberikan penyuluhan dan juga peralatan untuk menjaga kesehatan dan keamanan mereka seperti sepatu bot, tetapi tetap saja tidak digunakan," ucapnya.

INILAH.COM

Pemulung dan Sampah Rumah Tangga

Bandar Lampung - Tiga kresek berisi gelas dan botol plastik eks minuman kemasan akhirnya berhasil diserah terima- kan kepada pemulung. Barang-barang tersebut sengaja dikumpulkan tersendiri, karena selain “sedikit” ikut peduli terhadap lingkungan, itu bermanfaat pula buat orang lain, terutama pemulung.

Selanjutnya barang-barang tersebut di daur ulang oleh pabrik-pabrik di Pulau Jawa untuk dijadikan aneka produk baru. Setidaknya ini mengurangi penumpukan sampah anorganik yang memang sulit terurai di alam bebas.

Sang pemulung bergerobak kayu itu pun mengucapkan terima kasih. "Wah, terbalik Pak! Saya yang berterima kasih karena barang-barang ini enggak lagi jadi sarang nyamuk di tempat saya," ucap saya. "Iya ini kan enak sudah langsung dipilihin, biasanya harus ngorek-ngorek di tumpukan sampah," tukas pemulung tadi seraya mengucapkan terima kasih sekali lagi.  "Iya sama-sama Pak," kata saya.

Memang, biasanya sampah plastik itu kami buang di tukang sampah yang setiap haro menyambangi areal permukiman kami. Namun, oleh tukang sampah dicampur aduk dengan sampah organik di gerobak kuningnya, meskipun sudah diberitahu kalau keresek tersebut berisi plastik-plastik bekas.

Saya sih berpikir kenapa si bapak tukang sampah ini tak sekalian jadi pemulung juga ya, menyortir sampah yang bisa didaur ulang, kan lumayan buat tambahan pemasukan meskipun tak seberapa nilainya. Toh tiap hari bergulat dengan sampah. Kalau mau lebih praktisnya, ia meminta rumah tangga penghasil sampah untuk memilah sampah organik dan anorganik di kantong yang berbeda.

Ngomong-ngomong soal pemulung, saya jadi teringat para pemulung yang marak membawa gerobak beserta anak dan istri di sepanjang jalan protokol di Kota Tapis ini menjelang Lebaran kemarin. Kala itu miris melihatnya, mereka (ibu dan beberapa anak masih kecil) duduk di trotoar beralas kardus. Sementara si bapak berada sekitar sepuluh meter duduk di samping gerobaknya.

Tak cuma satu, saya juga melihat lebih dari sepuluh keluarga pemulung yang terpencar di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro hingga Jalan Kartini. Kok mereka sekarang tidak terlihat lagi ya, ke manakah gerangan? Apakah mereka pulang kampung dan belum kembali lagi? Atau seperti kata rekan saya bahwa mereka itu hanya pemulung musiman, modus menjelang Lebaran? Ah, entahlah.

Kelak pasti saya akan mencari tahu jawabannya. Ya, bagaimanapun juga mereka tetap berperan ikut menjaga kelestarian lingkungan. [ lampungpost.com ]

Rabu, 07 September 2011

Belajar Mengelola Sampah dari Korea

Program daur ulang dan manajemen sampah di Korea Selatan tidak hanya berhasil mengurangi limbah namun juga berhasil menjadikan sampah sebagai sumber energi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Korea dengan berbagai kebijakannya, berhasil menggalak- kan program daur ulang di Negeri Ginseng itu sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja baru. Hal tersebut dilakukan pemerintah demi menciptakan masyarakat yang mampu memanfaatkan kembali sumber daya (Resource Recirculation Society).

Kebijakan “Extended Producer Responsibility” (EPR) dari pemerintah mewajibkan perusahaan dan importir untuk mendaur ulang sebagian dari produk mereka.

Lima tahun setelah kebijakan EPR ini diluncurkan yaitu pada 2003, sebanyak 6,067 juta ton sampah berhasil didaur ulang dengan manfaat finansial mencapai lebih dari US $1,6 miliar.

Pada 2008, sebanyak 69.213 ton produk plastik berhasil didaur ulang, membawa manfaat ekonomi sebesar US$69 juta. Selain itu, dalam masa empat tahun penerapan EPR (2003-2006), sistem ini berhasil menciptakan 3.200 lapangan kerja baru .

Manfaat EPR terhadap lingkungan juga tak kalah besarnya. Dengan mendaur ulang produk-produk yang ditentukan oleh EPR, Korea berhasil mengurangi emisi karbon dioksida rata-rata 412.000 ton per tahun. Sistem EPR juga berhasil mencegah terciptanya 23.532 ton emisi gas rumah kaca dari pembuangan dan pembakaran sampah plastik.

Walaupun jumlah sampah di Korea terus meningkat (sejak tahun 2000), namun jumlah sampah yang berhasil didaur ulang juga terus naik.

Contoh, pada tahun 1995, sebanyak 72.3% sampah padat dibuang di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dan hanya 23,7% yang berhasil didaur ulang. Pada tahun 2007, 57.8% sampah padat berhasil didaur ulang dan hanya 23,6% yang dibuang. Pada tahun yang sama, sebanyak 81,1% dari total sampah berhasil didaur ulang.

Dengan berkurangnya sampah dan tempat pembuanganya, bisnis baru tercipta. Proyek Pemulihan Kembali Gas Dari Sampah Korea (Korea’s Landfill Gas Recovery Project) kini menjadi sebuah proyek pengembangan energi bersih besar dengan kapasitas energi mencapai 50 MWh dan memroduksi 363.259 MWh pada tahun 2009.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Perkotaan (Metropolitan Landfill Power Plant) telah berhasil mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 0,4 juta ton antara April dan November 2007. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi 7 juta ton emisi gas rumah kaca dalam jangka waktu 10 tahun (dari April 2007 hingga April 2017).

Dalam periode yang sama, pembangkit tersebut diharapkan mampu menghemat biaya pemerintah sebesar US$126 juta. Pembangkit ini juga telah berhasil mengurangi impor minyak Korea sebesar 530.000 barel pada tahun 2009.

Sumber: UNEP Green Economy

Kamis, 18 Agustus 2011

Perayaan HUT RI di Kolong Jembatan

Makassar - HUT RI ke-66 juga dirayakan ratusan murid SD dan SMP dari kalangan anak jalanan dan pemulung di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (17/8). Mereka merayakan momen itu di bawah kolong jembatan fly over Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.

Kondisi itu tak mengurangi semangat nasionalisme mereka. Upacara dimulai dengan ratusan anak jalanan dan pemulung berbaris di taman fly over dengan acara pengibaran bendara Merah Putih. Acara itu ditutup dengan pembacaan Pembukaan UUD 1945.

Anak-anak jalanan itu berharap, pemerintah memperhatikan kaum kecil. Salah satunya, dengan memberikan pendidikan yang layak dan berbiaya murah. Mereka juga berharap mampu meraih masa depan yang lebih baik. [ Liputan6.com ]

Senin, 08 Agustus 2011

Anak Pemulung Jadi Petualang Hijau

Coca-Cola Indonesia bersama karyawannya mengajak 25 anak-anak pemulung binaan Yayasan Ummu Amanah Bantar Gebang untuk menjadi ‘petualang hijau’ melalui berbagai permainan yang bertema Reduce, Reuse, dan Recycle.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan akhir Juli 2011 lalu dan ini merupakan bagian dari program Employee Volunteering “Coca-Cola Berbagi”. Dalam kesempatan tersebut hadir Titie Sadarini selaku Corporate Affairs Director Coca-Cola Indonesia beserta Ratri Wuryandari selaku Live Positively Manager Coca-Cola Indonesia.

Kegiatan Employee Volunteering ini merupakan  konsep yang menarik, dimana seluruh karyawan Coca-Cola Indonesia bergabung bersama anak-anak pemulung Bantar Gebang untuk bermain dan belajar melalui permainan pengembangan diri seperti: leadership, teamwork, story writing, greeneration, dan recycle workshop.

Pada akhir kegiatan, setiap kelompok diminta untuk menulis sebuah cerita pendek berisi pengalaman positif yang mereka dapatkan dalam kegiatan ini untuk kemudian dibagikan kepada anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan SD (Sekolah Dasar) binaan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) Al-Falah Yayasan Ummu Amanah, sebagai sumber inpirasi mengenai budi pekerti dalam membuang sampah, upaya mengurangi sampah, dan pemanfaatan sampah.

“Melalui program Employee Volunteering ini, perusahaan mendorong dan memfasilitasi karyawan untuk lebih peka terhadap lingkungan mereka serta pada akhirnya mereka dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di sekitar mereka secara nyata,” kata Titie Sadarini, Corporate Affairs Director Coca-Cola Indonesia.

Rencananya sampai akhir tahun 2011 masih akan ada kegiatan serupa yang nantinya akan mengajak berbagai komunitas yang peduli masalah sosial tersebut. [ marketplus.co.id ]