Rabu, 07 Maret 2012

Keselamatan Pemulung di TPA Sumur Batu Berbahaya

Bekasi - Runtuhnya gunungan sampah yag berada di zona 1, tempat pembuangan akhir (TPA) sumur batu pada Selasa siang (6/3), harus menjadi perhatian semua pihak, khususnya Pemkot Bekasi. Pasalnya, sewaktu-waktu gunungan sampah akan kembali longsor dan menelan korban jiwa.

Kepala keamanan TPA Sumur Batu, Wawan, Rabu (7/3) menuturkan, sebenar- nya tumpukan sampah dizona 1 sudah sangat tinggi dan tidak memadai lagi. Namun, sejak 5 hari yang lalu zona 1 dibuka kembali.

“Iya baru lima hari yang lalu buang sampah di sana, jadi tumpukan sampahnya belum terlalu padat, kena guyuran hujan jadi longsor,”tuturnya.

Diakui Wawan, selama ini dirinya selalu mengkhawatirkan keselamatan ratusan pemulung yang mengais sampah disekitar gunungan sampah, terlebih tinggi gunungan sampah sudah melampaui kapasitas. Pasalnya, keselamatan ratusan pemulung merupakan salah satu tanggung jawab pihaknya.

“Tiap hari saya muter keliling terus memantaua pemulung. Saya harap kepada pemerintah untuk harus segera merampungkan zona lima, karena zona empat sudah sangat tinggi sekali,”terangnya.

Kepala UPTD TPA Sumur Batu Acep R, mengakui, sejak lima hari yang lalu sampah-sampah di Kota Bekasi untuk sementara dibuang di zona 1, pasalnya gunungan sampah yang berada di zona 4 akan dipadatkan.

Namun, karena tumpukan sampah di zona 1 belum stabil, sekitar 6.500 m3 sampah akhirnnya longsor,”Longsornya tidak banyak,hanya sedikit. Ini sedang dalam perapihan,”kelitnya.

Dikatakan Acep, selama sebulan kedepan, ribuan kubik sampah dari masyarakat Kota Bekasi untuk sementara akan ditempatkan di zona 1, pasalnya gunungan sampah di zona 4 akan dirapikan dan dipadatkan. Menurut Acep, zona 1 yang saat ini memiliki ketinggian 15 meter untuk sementara masih bisa menampung sampah masyarakat Bekasi.

“Saat ini di zona satu masih dirapikan, minggu besok sudah bisa digunakan lagi. Selama zona satu digunakan, zona empat akan dipadatkan. Dengan cara inilah kami menyiasati keterbatasan TPA sumur batu, sambil menunggu pembangunan zoba 5 selesai,”tandasnya.

[ poskotanews.com ]

Minggu, 04 Maret 2012

Pemulung-Pengepul Demo di Kantor Bupati Cirebon

Cirebon - Sekitar seratus pengepul barang rongsok dan pemulung berunjuk rasa di depan kantor Bupati Cirebon di Sumber, Jumat (2/3/2012). 

Mereka meminta Pemkab Cirebon menjamin keamanan mereka dalam menjalani pekerjaan dan usaha di bidang jual-beli barang rongsokan. Selain itu mereka juga minta bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha.

"Kami merasa tidak tenang karena saat mengangkut barang rongsokan seringkali ditilang oleh petugas kepolisian," ujar Ahmad, salah seorang pengunjuk rasa.

Ahmad mengakui dia dan teman-teman sopir pengangkut barang rongsokan kerap kali membawa muatan yang tingginya melampaui bak mobil. "Hal itu terpaksa kami lakukan karena pertimbangan menghemat biaya angkut, maka tolong kami jangan ditilang," ujarnya.

Unjuk rasa yang berlangsung sekitar satu jam tersebut berlangsung aman. Puluhan anggota Dalmas Polres Cirebon dan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) tampak melakukan penjagaan di lokasi unjuk rasa.

Para pengunjuk rasa secara bergantian melakukan orasi. Dalam orasinya mereka menuntut ketenangan dalam menjalankan usaha mereka. "Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan," kata Ayub, koordinator lapangan aksi.

Para pengunjuk rasa membubarkan diri setelah ditemui oleh Kasatpol PP Yayat Ruhyat dan Staf Ahli Bupati Asdulah di ruang Paseban kantor Bupati Cirebon. "Terkait dengan kelancaran pengangkutan barang rongsokan di jalan, kami akan berkoordinasi dengan pihak yang berwenang," tandas Yayat Ruhiyat. [ INILAH.COM ]

Jumat, 02 Maret 2012

Masyarakat Peduli Rongsok Datangi Kantor Bupati

Cirebon - Sekitar seratusan para pemulung, pengepul barang rongsok dan mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Peduli "Rongsok" mendatangi kantor Bupati Cirebon di Sumber, Jumat (2/3) pagi sekitar pukul 10.00 WIB.

Mereka menuntut perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon atas pekerjaan dan usaha rongsok. Di bawah penjagaan ratusan anggota Dalmas Polres Cirebon dan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP), secara bergantian para demonstran melakukan orasi.

Dalam orasinya mereka merasa tidak mendapatkan ketenangan dalam menjalani pekerjaan dan usaha rongsok, karena, dalam mengangkut barang rongsok seringkali ditilang oleh petugas kepolisian. Selain itu, terkait permodalan, Pemkab juga tidak pernah membantu permodalan.

"Kami akui, suatu ketika mengangkut rongsok tingginya melampaui bak mobil, tapi dengan pertimbangan efesiensi biaya angkut, maka tolong kami jangan ditilang," kata seorang sopir barang rongsok yang mengaku bernama Karno.

Sementara peserta aksi yang lain mengatakan, UUD 1945 pasal 27 ayat (2) menyebutkan, tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sementara UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 ayat (2) juga menyebutkan, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

"Kami juga termasuk pekerja yang seharusnya bisa diperhatikan oleh pemerintah, tapi nyatanya seakan-akan dianggap tidak ada. Padahal, sadar atau tidak disadari oleh pemerintah daerah, kami ini membantu perekonomian daerah," kata Ayub, koordinator lapangan (korlap) aksi.

Tidak lama berselang, mereka diterima oleh Pemkab Cirebon di paseban Setda Kab. Cirebon di antaranya ditemui Kasat Pol PP, Yayat Ruhyat, Staf Ahli Bupati H. Asdulah, Kasubag Pemberitaan, Jidda H Ali.

Para pejabat yang menerima para pengunjuk rasa mengaku akan menyampaikan aspirasi mereka kepada dinas/instansi terkait. "Saya sarankan para pelaku usaha rongsok membentuk koperasi, nanti usulkan bantuan kredit tanpa agunan kepada Dinas Koperasi dan UMKM," kata Asdulah.

Sementara itu Yayat Ruhiyat menyatakan, terkait dengan kelancaran pengangkutan barang rongsok di jalan, dirinya mengaku akan berkoordinasi dengan pihak yang berwenang.

[ pikiran-rakyat.com ]

Senin, 27 Februari 2012

Putus Sekolah, Kakak-Beradik Jadi Pemulung

Ketapang - Sumber daya alam Ketapang Kalimantan Barat yang melimpah ternyata masih belum dirasakan secara merata. Masih ada saja penduduk yang tak bisa bersekolah lantaran tak punya biaya.

Mardiah, tujuh tahun, dan kakaknya Salwa, 10 tahun, warga Ketapang Kecil, kini tak lagi mengenyam pendidikan layaknya teman- teman sebayanya. Perekonomian keluarga yang pas-pasan membuat bocah-bocah ini harus memupus impian dan cita-citanya.

Ironisnya, Salwa dan Mardiah kini harus membantu perekonomian keluarganya. Keduanya terpaksa menjadi pemulung barang-barang bekas. Karung plastik besar kini menjadi temannya di siang hari. Tak ada waktu untuk bermain, apalagi belajar. Setiap hari Salwa dan Mardiah keliling kota mencari barang bekas untuk dijual.

“Kata Emak, ndak punya duit. Jadi kami tidak bisa sekolah,” ujar Salwa kepada Equator ditemui saat berteduh di teras kantor PMI Ketapang.

Dengan polosnya Salwa bercerita pada wartawan koran ini, ia mengaku memulung barang-barang bekas setiap hari di sekitar Kota Ketapang. Hasilnya pun tak seberapa, hanya Rp 1.000 dari hasil memulung barang bekas setiap harinya. Ia mulai turun dari rumah sekitar pukul 09.00 pagi hingga siang atau sore.

Uang itu mereka gunakan untuk jajan sehari-hari. Dengan memulung mereka tak lagi meminta uang jajan pada orang tua. “Bapak kerja tukang, ibu kerja masak saja di rumah (ibu rumah tangga, red). Kami 10 bersaudara, meninggal satu orang,” tuturnya polos.

Ketika memulung barang bekas, kedua kakak beradik itu tampak tak begitu memedulikan kesehatan. Mereka memungut barang bekas di mana pun mereka temui. Bahkan ketika ditemui Equator, keduanya tanpa mengenakan alas kaki. Kaki Mardiah, adik Salwa tampak dipenuhi dengan koreng. Bahkan ketika gerimis, mereka tetap saja memulung.

Mengetahui kondisi tersebut, anggota DPRD Ketapang dari Komisi II Junaidi mengaku akan melakukan pengecekan. Apakah bocah tersebut tak bisa bersekolah lantaran kemampuan orang tuanya yang tidak mampu atau memang orang tuanya yang tak menyekolahkan mereka.

“Kita akan cek dulu. Masalahnya kalau memang tidak mampu bisa digratiskan. Saya tidak mau komentar banyak dulu sebelum mengetahui lebih lanjut,” ujarnya, Minggu (26/02)

Namun ia menegaskan, apa pun alasannya tidak dibenarkan bocah sekecil itu bekerja. Apalagi sampai mengorbankan waktu belajar mereka. “Tidak boleh itu. Mereka masih kecil. Mereka harusnya sekolah,” tuturnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Ketapang Jahilin meminta agar hal tersebut dilaporkan ke pemda dan ditembuskan ke Kepala Dinas Pendidikan dan Kabag Sosial Setda Ketapang.

“Laporkan ke pemda tembusan ke Kadisdik, Kabang Sosial tentang hal tersebut,” tulis Jahilin via SMS. [ equator-news.com ]

Jumat, 24 Februari 2012

Acara Dzikir, Sampah Banyak, Pemulung Untung

Semarang - Acara "Dzikir dan Maulid Kyai Saleh Darat" yang digelar di Jalan Kakap Darat Tirto 209 Kamis (23/2) malam, membawa keuntungan bagi para pemulung karena banyak sampah yang berasal dari para jamaah yang datang. Sampahnya pun bermacam-macam, mulai dari plastik air mineral, kardus-kardus makanan dan yang lainnya.

Wahono (56), yang sudah menjadi pemulung sejak 11 tahun yang lalu. Menuturkan dengan adanya acara pengajian ini, dirinya mengaku lebih untung, karena banyak sampah yang ia dapatkan. "Yang pasti Besok (Jumat 24/2), pendapatan dari sampah-sampah ini jauh lebih besar dari biasanya" ujarnya.

Wahono yang kesehariannya mencari sampah disekitar kota lama ini merasa senang dengan acara Dzikir Mbah Saleh Ndarat. Selain mendapatkan siraman rohani dirinya juga bisa mendapatkan penghasilan lebih. [suaramerdeka.com ]

ATM Pemulung

San Diego - Anda sudah pasti tahu dgn ATM? Sebuah Mesin pintar untuk mengambil dan menyetor uang dari dan ke  Bank, dimana sebelumnya kita telah tercatat sebagai nasabah di Bank tersebut

Tetapi jika ada ATM yang dapat mengeluarkan uang untuk barang bekas yang kita masukan ke mesin itu, tentu suatu hal yang tidak biasa dan dapat menimbulkan rasa ingin tahu.

Baru-baru ini, di San Diego, California, telah diluncurkan sebuah mesin ATM yang diberi nama ecoATM, mesin ini telah memiliki serifikat ISO14001 dan Responsible Recycling (R2).

ecoATM adalah sebuah mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang dapat mengeluarkan uang berdasarkan nilai barang elektronik atau gadget bekas (sudah tidak terpakai atau rusak) yang kita masukan kedalam mesin tersebut.

Mesin akan mendeteksi bagian-bagian mana dari gadget tersebut yang masih berfungsi dan sudah rusak, kemudian ATM akan mengeluarkan sejumlah uang.

Tehnologi inovasi dan cerdas yang berbasis ramah lingkungan ini diharapkan dalam waktu dekat dapat diproduksi secara massal dan diijinkan beroperasi di Indonesia. [ mahakam24.com ]

Rabu, 22 Februari 2012

Pak Ulung. Sang Pemulung Pematangsiantar

Pematangsiantar - Seorang laki-laki tua tertatih menuntun sepeda usang. Di bagian belakang sepeda terikat sebuah kotak berisi bongkahan barang bekas. Wajahnya yang keriput tampak letih, ditambah postur tubuh kecil yang terlihat ringkih. tetap berjalan menuntun sepedanya.

Dia adalah Pak Ulung. tinggal di Jalan Bhinneka Gg. Bersama, Kel. Naga Pita, Kec. Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar bersama istrinya, Sarifah. Pasangan tersebut masuk ke dalam kategori keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan dan sangat memprihatinkan.

Laki-laki kelahiran 31 Desember 1943 ini menyambung hidup dengan cara mengais (memulung) barang yang sudah dibuang orang. Rata-rata setiap hari, ia hanya mampu mendapat uang Rp10.000 dari hasil penjualan barang bekas yang diperolehnya. Kondisi fisik yang lemah dan tidak memiliki keahlian khusus merupakan alasan ia menjadi seorang  pemulung.

Pak Ulung juga merupakan tipe laki-laki yang sangat pendiam, tertutup dan kurang bersosialisasi di lingkungannya. Ia dan istrinya mempunyai empat orang anak, yang juga bernasib sama dengan orangtuanya, sehingga mereka tidak mampu membantu sang orangtua.

Bahkan, yang lebih menyedihkan, rumah yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bernaung Pak Ulung dan istri tercinta, termasuk rumah yang sangat tidak layak huni dan tidak sehat. Diperparah dengan tiadanya sarana air bersih dan penerangan lampu, lengkaplah penderitaan hidup yang dialami beliau.

Sangat ironis rasanya melihat kehidupan beliau. Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun, tetapi Pak Ulung tampaknya masih hidup di dalam sebuah negara miskin dan belum merdeka.

Dengan bahasa yang tidak lancar, ia pernah berkata kepada kami, “Mungkin ini sudah takdir aku untuk hidup seperti ini, sebagai pemulung. Bapakku juga yang salah, kenapa aku dulu dikasih nama ULUNG. Makanya sekarang aku jadi pemulung, Pak.”

Untunglah PNPM Mandiri Perkotaan hadir di Kota Pematangsiantar, sehingga keluarga Pak Ulung yang sebelumnya termarginalkan, kini sudah tersentuh.

Satu tahun yang lalu, tepatnya 5 Januari 2011, rumah Pak Ulung “dibedah” agar menjadi rumah yang layak huni dan sehat melalui program BKM Naga Bonar, yang diberi nama bantuan ALADIN—artinya Atap, Lantai, Dinding. Sebuah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), yang bernama KSM Bersama, mengusulkan agar Pak Ulung menjadi salah satu penerima manfaat.

Singkat cerita UPS dan BKM menyetujui usulan proposal KSM Bersama dengan jumlah dana  swadaya masyarakat sebesar Rp17.870.000, ditambah bantuan dari BLM APBD sebesar Rp13,5 juta. PNPM Mandiri Perkotaan melalui BKM Naga Bonar, hanya merealisasikan bahan bangunan rumah saja, sedangkan pengerjaannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat, yang dikoordinir oleh KSM bersangkutan.

Sedangkan mengenai sarana air bersih ditanggulangi oleh PDAM Tirtauli, Kota Pematangsiantar, secara gratis. Hal tersebut merupakan hasil lobi BKM Naga Bonar melalui koordinatornya Rajak, dengan Dirut PDAM Tirtauli Badri Kalimantan,SE.

Setelah persiapan matang, masyarakat  sekitar yang dimotori oleh KSM Bersama ingin membongkar rumah Pak Ulung sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan.

Saat itu juga Pak Ulung menangis sambil terbata-bata memohon, “Tolong, Pak, jangan dibangun dulu rumahku. Kasih waktu aku seminggu dulu, Pak..”

Tentu saja hal ini membuat warga dan KSM bingung, sebab beliau tidak mau memberikan alasan mengapa rumahnya tidak mau dibangun, padahal sejak awal Pak Ulung sudah setuju bahwa rumahnya menjadi salah satu rumah yang mendapat bantuan ALADIN. Setelah melakukan rembug, akhirnya warga sepakat menunda pembongkaran, tanpa memaksa Pak Ulung menjelaskan mengapa beliau begitu ketakutan kalau rumahnya akan dibangun.

Selanjutnya, ditunjuklah beberapa orang untuk datang ke rumah Pak Ulung guna meminta penjelasan mengapa beliau tampak ketakutan kalau rumahnya akan dibangun. Malam pun tiba, dan sekitar empat orang warga, ditambah beberapa anggota BKM dan UPS tiba di rumah Pak Ulung.

Setelah melalui perbincangan dan pendekatan, akhirnya Pak Ulung menceritakan alasannya takut kalau rumahnya akan dibangun. “Begini, Pak PNPM, aku punya utang awalnya Rp500.000, tetapi sudah lima bulan tidak kubayar. Kemarin aku sudah ditagih lagi, katanya utangku sudah jadi Rp2 juta, ikut bunganya. Makanya aku bingung dan juga malu sama bapak-bapak. Kalau seandainya dia tahu aku bangun rumah tapi hutangku tidak kubayar, bisa gawat aku, Pak,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Setelah mendengar apa yang dikatakan Pak Ulung dan mengetahui kepada siapa Pak Ulung meminjam uang, spontan Pak Naseb, salah satu perwakilan BKM yang ikut hadir berkata, “Udah, Pak, Bapak jangan pikirkan utang itu lagi. Besok kami yang bayar utang Bapak. Tapi Bapak janji, jangan lagi ngutang sama rentenir. Kalau perlu apa-apa, Bapak bilang sama aku aja, ya Pak?”

“Iya, Pak. ‘Ma kasih, Pak,” sambut Pak Ulung dan istrinya seraya memeluk Pak Naseb sambil meneteskan air mata. Suasana malam yang hanya diterangi sebuah lampu teplok itu begitu mengharukan, sehingga yang lain tidak dapat membendung air matanya.

Selanjutnya diambil kesepakatan agar besok dikerahkan warga untuk membongkar dan membangun rumah Pak Ulung secara gotong royong. Sedangkan Pak Naseb, malam itu juga bergegas membereskan utang Pak Ulung. Akhirnya, hanya dalam waktu empat hari, sebuah rumah yang layak huni dan sehat milik Pak Ulung, sudah berdiri.

Sejak awal, Pemerintah Kota Pematangsiantar sudah menyambut positif Program PNPM Mandiri Perkotaan ini. Tepat pada 10 Januari 2011, Wakil Walikota (Wawako) Drs. Koni Ismail Siregar memberikan kunci rumah secara simbolis kepada Pak Ulung, beserta tiga orang penerima manfaat lainnya dalam satu rangkaian acara “Penyerahan Simbolis Program ALADIN BKM Naga Bonar Kelurahan Naga Pita”

Dalam acara tersebut hadir pula lurah, camat , SKPD, Dirut PDAM Tirtauli, Anggota DPRD,  Korkot VI, TA Monev OC 1 Sumatera Utara, tokoh masyarakat serta seluruh masyarakat Kelurahan Naga Pita.

Usai menyerahkan kunci, Wawako menghibur empat KK warga penerima Bantuan ALADIN dengan menyumbangkan suara emasnya lewat sebuah lagu yang berjudul “Bulan Sabit“, ciptaam Broery Pesolima (alm).

Kini Pak Ulung dapat tidur nyenyak. Ia tidak lagi sibuk mencari ember untuk menampung tetesan dari atap yang bocor saat hujan tiba, dan tidak lagi kedinginan saat angin malam berhembus menerpa lubang dinding gedek yang sudah banyak menganga.

Jika sebelumnya mandi saja tak tentu kapan, kini Pak Ulung bersama istrinya juga sudah dapat menikmati air bersih di rumahnya sendiri dan sudah bisa mandi teratur.

Perubahan sangat drastis juga terjadi pada sikap, perilaku dan keimanan beliau. Yang selama ini tertutup dan tidak bersosialisasi, kini sudah terbuka dan bisa berbaur dengan masyarakat sekelilingnya. Bahkan, yang awalnya ia jarang menjalankan shalat lima waktu, kini sudah melaksanakan shalat. Kendati Pak Ulung masih tetap sebagai pemulung, beliau sudah menjadi pemulung yang bersih, ramah, rendah hati dan taat beribadah.

Kisah Pak Ulung dapat dijadikan cambuk bagi kita semua, sebab beliau tidak lupa akan nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Di kehidupan yang serba modern ini, banyak dari kita  yang telah diberikan nikmat lebih, tetapi kita lupa untuk bersyukur. Malah sibuk mengejar harta dan jabatan, lebih mementingkan diri sendiri tanpa peduli terhadap sesama yang serba kekurangan. Padahal masih banyak Pak Ulung-Pak Ulung lain yang membutuhkan uluran tangan kita.

Sedikit menurut kita, tapi banyak menurut mereka. Tidak bermanfaat menurut kita, tapi sangat bermanfaat menurut mereka. Hidup ini hanya sementara. Hidup yang kekal adalah setelah kita tiada. Tak ada guna menumpuk harta benda jika lupa dengan sesama dan Yang Maha Kuasa, niscaya semua akan berakhir dengan malapetaka.

Banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari cerita di atas. Walau tampak sederhana, jika dicermati lebih dalam akan sangat luar biasa.

Bagi penulis sendiri, ada dua hal yang dapat ditangkap: pertama, jangan tangkap apa yang mereka lakukan, tapi tangkaplah apa yang mereka rasakan; kedua, orang kaya bisa taat beribadah itu biasa, tapi orang miskin bisa taat beribadah itu luar biasa.

Demikianlah cerita kisah singkat tentang perubahan sikap dan perilaku sosok Pak Ulung, keluarga miskin yang bekerja sebagai pemulung, berkat PNPM Mandiri Perkotaan. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini silakan hubungi:

Contact Person :
Richi Arisham (Ketua KSM Bersama), HP. 081362405507
Rajak, SH (Koordinator BKM Naga Bonar), HP. 085261659039

Atau

Korkot VI Pematangsiantar
Jl. Tangki Atas Kelurahan Naga Pita, Kec. Siantar Martoba
Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara

www,p2kp.org