Minggu, 29 Mei 2011

Kiprah Para Pemulung

Jakarta - Tak disangka bisnis pemulung ternyata lumayan besar. Ini adalah bisnis rakyat kecil yang bisa jadi juga belum tersentuh bank. Namun dengan kerja keras tanpa lelah, pemulung bisa bertahan dan memiliki sekaligus membangun jaringan kerja yang solid.

Kita mungkin pernah berhubungan dengan pemulung atau pebisnis barang bekas yang sering lalu lalang di kawasan permukiman. Masalahnya, apakah kita peduli akan nasib para pelaku bisnis skala sangat kecil itu?

Untuk memperkuat posisi mereka lantas membentuk organisasi. Menurut saya, langkah ini tidak hanya sebatas untuk mengidentifikasi diri dan survival tetapi juga strategi pemulung guna memperlancar usaha mereka.

Benar apa yang dikatakan Bapak Kuswoyo, ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia, bahwa eksistensi mereka masih dipandang sebelah mata. Kehadiran pemulung dinilai tak lebih sebagai laskar tak berguna. Pandangan ini menurut saya adalah salah besar. [ Bisnis Indonesia ]

Senin, 18 April 2011

Pemprov Bantah Tudingan Pemulung Masuk LKPj

Bandung - Pemprov Jabar membantah pernyataan Wakil Ketua Pansus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Gubernur yang mengungkapkan ada sekitar 250 ribu lebih kesempatan kerja sebagai pemulung di Jawa Barat.

Memang Pemprov Jabar memasukkan pekerja informal yang jumlahnya cukup besar, namun tidak termasuk pemulung.

Kepala Biro Humas Protokol dan Umum Ruddy Gandakusumah menjelaskan, nilai ekonomis sektor informal cukup besar karena bisa mencapai puluhan miliar.

Pemulung tidak termasuk dalam pencatatan by name by address by job by company,” ujar Rudy dalam keterangan resminya yang diterima INILAH.COM, Senin (18/4/2011).

Rudy menjelaskan, memang ada perbedaan jumlah tenaga kerja antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar. Pendataan dilakukan melalui mekanisme pendataan informasi pasar kerja (mikro) dan mekanisme sensus 2010.

“Pendataan cara mikro dilakukan dengan pendataan sistem informasi pasar kerja, pendataan kartu AK.1 (kuning), pendataan oleh petugas fungsional pengantar kerja, pendataan informasi lowongan kerja, serta pendataan penempatan tenaga kerja. Sementara mekanisme sensus dilakukan dengan waktu pencacahan dari bulan Agustus ke Agustus berikutnya. Pencacahan tidak mendata TKI, antar kerja antar daerah dan antarkerja antarlokal, bursa kerja khusus, job fair, dunia maya, serta media koran,” ungkapnya.

Rudy menambahkan, pencatatan bursa kerja (pemerintah dan swasta) pada tahun 2009 ada 502.958 orang dan 560.344 pada tahun 2010. Ditambah juga 218.235 kesempatan kerja dari hasil investasi Rp17 triliun di Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jabar.

“Kesempatan kerja tidak bersumber dari PMA dan PMDN saja, tetapi bisa juga dari sumber-sumber yang dilakukan KUMKM atau skala mikro dan kecil. Jumlahnya lebih banyak termasuk pekerja mandiri sehingga jumlah 1.063.302 adalah yang tercatat sesuai tupoksi Disnakertrans Jawa Barat,” tegasnya.

inilahjabar.com

Selasa, 12 April 2011

Ketahanan Sosial Komunitas Pemulung Kota Malang

Fenomena pemulung di kota Malang sebagai bagian dari pekerjaan sektor informal merupakan ekses dari adanya lapangan pekerjaan formal yang tidak sebanding dengan para pencari kerja. Kaum urban yang datang membawa harapan akan nasib yang lebih baik di kota harus mencari laternatif pekerjaan lain di sektor informal. Ketiadaan skill dan pendidikan rendah membuat komunitas pemulung berada di posisi marginal.

Jika dilihat secara fungsional, keberadaan pemulung dalam kehidupan kota memang banyak membantu pemerintah dalam mengurangi volume sampah masyaraka. Namun, masih banyak konstruksi negatif dari masyarakat terhadap pemulung. Hal itu disebabkan profesi memulung yang rentan dengan tindak kriminal, seperti mencuri. Kehidupan urban pemulung yang identik dengan pemukiman kumuh dapat merusak wajah kota membuat komunitas pemulung semakin tidak memiliki bargainning.

Banyak tekanan yang dihadapi. Baik itu dari segi sosial, ekonomi maupun politik. Delapan belas tahun mereka masih menempati pemukiman di Bantaran Sungai Brantas. Hal ini cukup membuktikan bahwa mereka memiliki imunitas atau daya tahan dalam menghadapai tekanan agar tetap survive. Studi ini bertujuan untuk mengetahui bentuk ketahanan sosial komunitas pemulung di Bantaran Sungai Brantas RT 7 RW 5 Kelurahan Penanggungan Malang.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan setting di pemukiman pemulung bantaran sungai Brantas RT 7 RW 5 Kelurahan Penanggungan Kec. Klojen, Malang. Sebagai subjek penelitian dipilih 9 orang pemulung. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, interview, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data menggunakan analisa deskriptif kualitatif.

Dari hasil studi, terdapat tiga bentuk ketahanan sosial komunitas pemulung, yakni ketahanan secara sosial, ekonomi dan politik. Ketahanan secara sosial dilihat dari hubungan dengan interaksi komunitas dengan lingkungan diluarnya maupun dengan sesamanya. Ketahanan secara ekonomi diidentifikasi melalui cara pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Sedangkan ketahanan secara politik diidentifikasi melalui cara yang digunakan komunitas dalam mengahadapi tekanan-tekanan berupa norma yang dibuat oleh masyarakat yang kurang menguntungkan dari sebuah lembaga atau institusi.

Hasil studi juga menunjukkan bahwa komunitas pemulung ini merupakan pemulung klasik, dimana mereka belum bersentuhan dengan teknologi modern seperti saat ini. Meskipun mereka sudah memiliki jaringan, namun aktivitas pemulung ini masih berorientasi subsistensi.

Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teori Fungsional Struktural dari Talcott Parson untuk menganalisis bentuk ketahanan sosial komunitas pemulung melalui syarat-syarat fungsional sistem, yakni analisis AGIL, dimana bentuk ketahanan ekonomi merupakan manifestasi yang dominan dari fungsi Adaptasi yang terdiri dari Adaptation, Pencapaian kebutuhan ekonomi agar tetap survive sebagai Goal Attainment, Tindakan kolektif dalam hubungan keluar sebagai bentuk Integration dalam melindungi kolompok, dan Latency yang dibentuk komunitas di dalam penanaman nilai ekonomi pada diri anak.

student-research.umm.ac.id

Minggu, 13 Maret 2011

Penghasilan Pemulung Menjanjikan

Bandung - Pemulung di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, mengaku bisa mendapatkan penghasilan hingga ratusan ribu rupiah dalam satu minggu.

Hal itu diungkapkan oleh salah seorang pemulung bernama Holidin (31) warga Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat, yang ditemui sedang memilah sampah diantara gunungan sampah, Sabtu (13/3).

Holidin mengakui kalau ia bisa mengumpulkan sekitar 60 ton sampah, dan mendapatkan upah minimal Rp 350.000,00 dan paling besar Rp. 600.000,00 dalam lima hari.

Berprofesi sebagai pemulung meskipun memiliki risiko kecelakaan tertimbun alat berat atau sampah dan terserang penyakit, menurutnya lebih baik daripada jadi pengemis. "Sampah tiap hari ada, semua orang yang cari sampah disini nggak takut nggak dapat uang. Jadi pengemis bisa kena razia, selain itu kesannya jadi seperti pemalas," katanya. [ pikiranrakyat.com ]

Kamis, 10 Maret 2011

Beginilah Kehidupan Para Pemulung di Kamboja

Phnom Penh - Sampah selalu jadi problem bagi warga kota-kota besar. Namun, ternyata sampah juga menjadi “sumber kehidupan” bagi warga miskin. Layaknya di negara kita, di pinggiran kota Phnom Phen Kamboja, juga banyak pemulung yang hidup di kawasan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah. Diperkirakan jumlahnya mencapai 2000 warga, 600 diantaranya adalah anak-anak. [indotainment.info]

Selasa, 01 Maret 2011

Lapak Sampah Terpadu Desa Cililin

Bandung - Lapak Sampah Terpadu Desa Cililin kabupaten Bandung Jawa Barat adalah program pemberdayaan pemulung sampah dengan prinsip penampungan dan pengelolaan sampah anorganik. Program dengan sistem pembentukan kelompok pemulung dan pencacah sampah itu telah sukses dan terbukti meningkatkan kualitas hidup pemulung. Program ini telah membantu 325 pemulung dengan tingkat pendapatan yang meningkat 100 %.

Tujuan :
1.Menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran.
2.Mengembangkan potensi ekonomi dan kebersihan daerah.
3.Meningkatkan kapasitas dan kopetensi masyarakat dalam usaha daur ulang sampah anorganik.
4.Untuk mengurangi tingkat pencemaran sampah.
5.Untuk membangun jaringan usaha masyarakat.

jasainternetmarketing.com

TPA Jalupang Kelebihan Kapastitas, Picu Ratusan TPS Liar

Karawang.- Tempat pembuangan Akhir (TPA) sampah di TPA Jalupang, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang yang sudah melebih kapasitas memicu munculnya ratusan titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar yang tersebar merata hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Karawang.

Dari pantauan "PRLM", Selasa (1/2) beberapa titik tempat pembuangan sampah liar berada di jalan-jalan perumahan dan di bantaran Sungai Citarum. sampah pun hanya ditumpuk begitu saja menunggu untuk diangkut. Beberapa diantaranya dibakar hingga menimbulkan polusi.

Ruhyan (35), salah seorang warga Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat mengatakan Dipo mobil bak sampah juga menjadi salah satu tempat pembuangan sampah bagi masyarakat sekitar Karangpawitan. Padahal tempat tersebut hanya berjarak 50 meter dari sekolah. "Kebanyakan sampah rumah tangga yang dibuang. Karena tidak diangkut, jika sore hari hanya dibakar oleh warga saja, sisanya juga ada yang dikais oleh pemulung," katanya.

Kondisinya yang sama juga terjadi di Kecamatan Klari. Tumpukan sampah yang berlokasi di tempat pembuangan sampah sementara(TPSS) Kampung Kalihurip Desa Duren, Kecamatan Klari semakin meluas. Bahkan, tak jarang sampah tersebut tumpah ke jalanan karena sudah tak tertampung bak kontainer yang disiagakan petugas kebersihan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Dinas Cipta Karya Kab. Karawang, Agus Sugiono mengatakan Pemicu terjadinya penumpukan sampah yang tersebar hampir di seluruh Kab. Karawang,salah satunya disebabkan adanya peningkatan volume sampah baik sampah domestik (rumah tangga) maupun sampah pasar yang cenderung meningkat.

Sedangkan daya angkut statis sehingga dengan sendirinya penumpukan sampah meningkat."Volume sampah di Kabupaten Karawang ini hampir 1000 ton perhari, sementara mobil bak pengangkut sampah hanya sekitar 40 unit. Ini sangat tidak ideal," ujarnya.

pikiran-rakyat.com