Kamis, 19 Juli 2012

Paket untuk Warga dan Pemulung Bantargebang

Bekasi - Sebanyak 1.000 paket bahan makanan dibagikan untuk warga dan pemulung TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (18/7/2012).

Dewan Daerah Walhi DKI Jakarta sekaligus pendamping warga dan pemulung, Bagong Suyoto, mengatakan, paket yang dibagikan terdiri atas beras 10 kilogram, sarden 7 kaleng, dan minyak goreng 1 kilogram dalam kemasan.

Menurut Bagong, warga dan pemulung yang mendapatkan paket itu adalah binaan sekolah Al Muhajirin, yang didirikan secara swadaya di RT 1 RW 5 Ciketing Udik, Bantargebang, atau berbatasan dengan lokasi TPST.

Bagong mengatakan, pembelian paket bahan makanan itu didanai oleh Al Imdaad Foundation, suatu lembaga amil zakat, yang memiliki jaringan ke mancanegara.

"Acara rutin setiap tahun untuk sekadar membantu warga dan keluarga pemulung menjelang bulan Ramadan," kata Bagong yang juga anggota Dewan Pembina Al Muhajirin.

Warga dan keluarga pemulung, lanjut Bagong, perlu dibantu karena secara ekonomi kurang mampu. Penghasilan dari mengais sampah rata-rata Rp 40.000 sampai Rp 50.000.

Sebenarnya, penghasilan itu cukup. Namun, kata Bagong, akibat pengelolaan tidak baik, penghasilan itu menjadi tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. "Ada pembelian barang atau konsumsi yang sebenarnya tidak diperlukan," katanya.

KOMPAS.com

Rabu, 11 Juli 2012

Mau Digusur, Pemulung Ngadu ke LBH

Jakarta - Puluhan pemulung yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu, Jakarta Timur, mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Selasa (10/7). Mereka meminta LBH dapat mengadvokasi dan memperjuangkan nasib pemulung yang tempat tinggalnya akan digusur Pemerintah Provinsi DKI.

"Di kolong Kampung Melayu itu mau digusur. Intinya, kami minta bantuan ke LBH lah," kata Supardi, seorang pemulung. Menurut dia, pertemuan ini diwakili Advokasi Publik LBH Jakarta.

Dari pertemuan ini, ucap Supardi, LBH Jakarta bersedia memperjuangkan nasib para pemulung yang tinggal di bawah kolong jembatan Kampung Melayu. Supardi berharap, bila pun harus digusur, Pemprov DKI dapat memberikan tempat pengganti terbaik.

"Pertemuan dengan orang LBH itu cukup baik dan mereka ingin membantu. Kita berharap agar kita dapat bertahan disana atau disediakan tempat oleh pemda," tutur Supardi.

Sebelumnya, para pemulung sempat beorasi di halaman Gedung LBH Jakarta. Dalam aksi ini, mereka juga membawa gerobak dan membentangkan spanduk agar LBH Jakarta ikut membantu memperjuangkan nasib mereka.

berita.yahoo.com

Kamis, 07 Juni 2012

Lakon Duka Pemulung di Belantara Jakarta

Seharian Jasad Si Bungsu Digendong Kemana-mana

Sungguh malang nasib tunawisma yang jadi pemulung ini. Ketika si bungsu yang berusia tiga tahun meninggal, bapak dua anak ini kebingungan menguburkan jasadnya. Ketiadaan biaya membuatnya harus menggendong mayat anaknya mencari tempat pemakaman.

Pekan silam menjadi hari yang paling buruk dalam perjalanan hidup Supriono (42), pemulung asal Solok, Sumatera Barat yang hidup menggelandang di Jakarta sejak 1999. Si bungsu dari dua bersaudara, Khairunisa (3) mendadak jatuh sakit. "Ia selalu memuntahkan makanannya dan mengeluh pusing," kata Supriono.

Supriono sempat membawa Khairunisa, sapaan anaknya, berobat ke Puskesmas Setia Budi, Jakarta Selatan. "Dokter mengatakan Khairunisa mengalami muntaber dan diberi obat berupa sirup dan tablet. Saya bayar Rp 4.000."

Usai ke Puskesmas, Supriono "pulang" ke tempat ia biasa istirahat di bawah jembatan rel kereta api, kawasan Cikini. Untuk menahan dingin malam, Supriono membaringkan si kecil Khairunisa di gerobak, tempat ia biasa menaruh hasil memulung. Di sanalah Supriono mencoba merawat anaknya.

"Obat dokter sudah saya kasihkan. Namun, sampai obatnya habis, sakitnya tidak sembuh juga. Saya kasih makan nasi dimuntahkan. Lalu, saya kasih bubur ayam juga dimuntahkan," kata Supriyono dengan mata menerawang.

Tidak mau perut anaknya kosong, Supriono menggantinya dengan biskuit yang dicelupkan air. Maksudnya agar lebih lunak dan mudah dicerna. "Namun, belum habis dua potong, Khairunisa kembali muntah. Hingga Minggu malam, kondisi Khairunisa semakin lemah, namun dia bisa tidur."

Saat azan Subuh, Senin (6/6) lanjut Supriono, anaknya bangun dan minta minum. "Saya perhatikan fisiknya semakin lemah saja, sehingga saya memilih tidak memulung hari itu. Saya putuskan untuk menjaga dia. Sekitar jam 07.00, saya perhatikan sorot matanya semakin suram dan mukanya semakin pucat."

Supriono semakin panik dan mencoba membangunkan buah hatinya itu. Namun, Khairunisa terbaring tenang, tak ada reaksi apa-apa. Supriono pun paham, anaknya sudah menghadap Yang Kuasa. Ia hanya bisa menangis menatap jasad anaknya di gerobak itu. Di tengah duka yang merajam, ia tidak tahu di mana jasad anaknya dimakamkan. Ia sama sekali tidak punya sanak saudara di Jakarta.

"Saat itu situasi di Cikini sudah mulai ramai, tetapi tidak seorang pun saya kenal untuk dimintai tolong. Lalu, saya teringat teman saya Dasmin yang tinggal di Kampung Kramat, Bogor, Jawa Barat. Saya berniat minta tolong agar jenazah Khairunisa dimakamkan di sana. Saya yakin dia mau menolong."

Tertahan Di Kantor Polisi

Sungguh tragis, Supriono membawa jasad anaknya di gerobak itu menuju Stasiun Tebet. Kakak Khairunisa, Muriski Saleh (7) dengan langkah kecil mengikuti dari belakang. Sambil menunggu kereta datang, Supriono menutupi wajah Khairunisa dengan kaus, sedangkan kaki yang sudah mulai kaku itu dibiarkan saja terbuka.

Begitu kereta datang, Supriono menggendong jenazah Khairunisa dan bermaksud naik ke dalam gerbong. Tiba-tiba seorang pedagang teh botol mencegat Supriono. "Pak, anaknya sudah meninggal, ya," ujar Supriono menirukan pedagang teh botol. "Saya membenarkan dan mau saya bawa ke Bogor. Di antara orang yang mengerumuni saya, ada yang minta agar saya ke kantor polisi. Saya setuju saja. Kebetulan letak kantor polisi tidak jauh dari Stasiun Tebet."

Sementara Supriono menunggu pemeriksaan di Mapolsek Tebet, jenazah Khairunisa dititipkan di Puskesmas Tebet yang bangunannya bersebelahan dengan Polsek Tebet. "Saya tertahan di sana selama 6 jam hanya untuk menunggu datangnya petugas reserse yang melakukan pemeriksaan. Saya jengkel karena harus buru-buru menguburkan je nazah Khairunisa."

Supriono semakin tidak sabar karena petugas mengatakan, jenazah Khairunisa harus dibawa ke RSCM . Polisi juga sudah memesan mobil jenazah yang akan membawa jasad Khairunisa menuju RSCM. "Sore hari datang mobil ambulans. Sampai di RSCM, saya masih harus menunggu. Lalu, petugas minta agar jenazah Khairunisa diotopsi. Saya keberatan karena kematian anak saya sudah jelas karena sakit muntaber," papar Supriono.

Oleh petugas, Supriono diminta menandatangani surat penolakan otopsi. "Surat itu langsung saya tandatangani. Petugas kamar jenazah menanyakan, apakah saya membawa pulang Khairunisa dengan mobil ambulans atau membawa sendiri. Saya mengatakan enggak punya uang, makanya akan saya bawa sendiri."

Keluar dari RSCM, matahari sudah hampir tenggelam. Kembali dengan mata basah Supriono kebingungan mau dibawa ke mana anak bungsunya. "Saya pikir kalau ke Bogor sudah terlalu sore. Lalu, saya ingat Ibu Sri, pemilik kos di Jl. Manggarai Utara VI. Dulu tahun 2003, saya pernah tinggal di sana."

tabloidnova.com

Selasa, 29 Mei 2012

Jokowi Didoakan Pemulung jadi Gubernur DKI

Jakarta - Pemulung dan pencari barang beras yang tinggal di bawah kolong jembatan mengeluh kepada calon gubernur Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi. Kelak jika menjadi Gubernur DKI, Jokowi tak menggusur tempat mereka yang menjadi sumber penghasilannya.

"Saya sudah cocok tinggal di sini. Tapi kami memohon jangan diusir dari sini," ujar Karto dalam obrolan para pemulung dengan Jokowi di pinggir kali Ciliwung, Jakarta Timur, Minggu (27/5/2012).

Lain lagi dengan Ibu As. Ia mengaku pemulung dan pencari barang bekas sejatinya tidak mau tinggal di bawah jembatan dengan tempat yang tidak layak. Apalagi sirkulasi udaranya tidak sehat. Jika banjir tiba, keluhnya, tempat tingalnya terendam, juga yang lain.

"Memang sebenarnya enggak layak, tapi yang namanya pemulung layak saja di sini. Asal jangan dikutip sama kamtib. Dimintain jatah. Sehari saja belum tentu dapat 10 ribu," Ibu As mengeluh.

Mendengar keluhan, Jokowi menanyakan keinginan mereka seperti apa. "Apakah mau dibuatkan rumah susun. Kalau iya perlu ada tanahnya. Yang pasti dekat dan nanti akan dipikirkan," ujar Jokowi yang biasa mengenakan kemeja kotak-kotak.

Jokowi juga meyakinkan para pemulung, bahwa hak mereka untuk kesehatan dan pendidikan akan mendapat jaminan pemerintah. Seperti biasanya, Jokowi menawarkan kepada mereka kartu sehat dan kartu pendidikan untuk anak-anak.

Warga berharap banyak dengan penjelasan Jokowi. Mereka mengaku tak bisa mendukung sepenuhnya kecuali dengan doa. Di akhir acara, dengan dipimpin salah satu pemuka agama, pemulung dan pencari barang berkas berdoa bersama untuk pemimpin lebih baik ke depan.

"Warga enggak memiliki apa-apa untuk diberikan. Warga di sini hanya memberi dukungan doa kepada Pak Jokowi. Semoga perjalanan menuju DKI 1 diberi keselamatan dan kesehatan," ucap salah satu warga menutup pertemuan sore itu.

Tribunnews.com

Kamis, 22 Maret 2012

Pemulung Bisa Raup Rp 150 Ribu dari Sampah

Medan - Sampah-sampah yang berserakan di Kota Medan, salah satu seperti yang berada di Jalan Dahlia Kelurahan Sidorejo Hlilir Kecamatan Medan Tembung dan Jalan Tempuling I, ternyata membawa berkah bagi keluarga Manulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Pasalnya, tanpa ada tumpukan sampah yang berserakan, mereka tidak akan bisa mencari  makan. “Saya selalu mencari uang makan untuk kebetuhan sehari-hari bersama istri,” ujar Manulang, disela-sela mencari tumpukan sampah di depan rumah warga yang berada di Jalan Tempuling  Kelurahan Sidorejo Hilir Kecamatan Medan Tembung, Rabu (21/03).

Sampah-sampah yang kerap dicari setiap hari di tong sampah rumah warga ataupun di tempat tumpukan  seperti  kertas, karton, plastik, kardus, dan botol cup, serta botol bekas lainnya. “Ya dengan hasil tumpukan sampah tersebut, saya selalu meraup keuntugan sehari mencapai Rp 150 ribu. Terkadang, saya mau mencapai Rp 200 ribu per hari,” paparnya.

Manulang mengatakan, untuk sampah seperti karton itu bisa dijual ke botot seharga Rp 1.300 per Kg dan untuk botol aqua gelas yang sudah dibersih harganya bisa mencapai Rp 8.000 per  kg. Kemudian untuk sampah plastik yang bersih bisa dijual ke botot seharga Rp 2.500 per kg, untuk sampah jenis kertas koran bisa dijual seharga Rp 2.000 per kg.

Sementara itu, Evi, istri Manulang menambahkan, mereka bisa menghabiskan waktu selama enam jam saat mengais sampah. Selebihnya, membersihkan tumpukan sampah yang berada di Jalan Tempuling II.

“Sebenarnya bagi kami keluarga pemulung, sampah yang sering di buang oleh warga di depan rumahnya, itu merupakan saut rezeki. Walaupun, sampah yang dicari berbau busuk, kami tetap selalu mencari dan mengambil serta mengutip tumpukan sampah itu,” ungkapnya.

Selanjutnya Evi juga menambahkan kemudian untuk sampah berjenis  ampas kelapa, dan bekas masakan warga yang sudah basi dipergunakan untuk makan ternak ayam dan hewan lainnya. [ hariansumutpos.com ]

Jumat, 16 Maret 2012

Pemulung Mengembalikan Barang Curian

Materi ini saya dapat dari koran Kedaulatan Rakyat yang terbit dalam minggu ini. Terima kasih kepada pemulung yang ternyata tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga mengembalikan barang curian.

Sejak beberapa bulan terakhir, saya kerap membaca rubrik “Sungguh-sungguh Terjadi” yang dipasang pada halaman depan, sudut kanan bawah, koran itu.

Cerita ini terjadi di Solo, pada Jumat, 2-3-2012, di Play Group Aisyiyah, Baron. Dikirim oleh Siti Aisyah, warga Jalan Pisang I No.6, Kerten, Solo 57143.

Wahyu Priyanti kehilangan tas di dalam salah satu kelas. Tas itu berisi KTP atas nama ayahnya kakaknya dan dirinya, kartu mahasiswa, dan kartu perpustakaan.

Semua guru ikut mencari. Karena isi tas tidak seperti yang diinginkan pencuri, tas itu dibuang di tempat pembuangan sampah dekat gedung sekolah. Dan diantar oleh pemulung.[ heruls.net ]

Minggu, 11 Maret 2012

Bangun Perpustakaan dari Memulung

Padang - Saufni Chalid menyatakan dirinya seorang pemulung yang sukses. Ya, karena dari hasil memulung itulah, sebagian besar dari koleksi buku-bukunya di perpustakaan umum Radesa berasal.

Saat itu dia menjadi pemulung disela-sela pekerjaan sebagai karyawan perpustakaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas dan juga saat melanjutkan sekolah di jurusan Ilmu Perpusatkaan Universitas Indonesia.

Cerita jadi pemulung tersebut berawal pada suatu hari di tahun 1974. Sewaktu kembali dari kuliah, dia singgah di pasar sore Rawamangun untuk membeli ikan dan cabe bulat. Sesampai di rumah, cabe bulat dengan bungkusan koran tersebut dibukanya.

“Saya ketawa sendiri di dapur setelah membuka bungkusan tersebut. Sebab dalam bungkusan korang tersebut terdapat sebuah tulisan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan dosennya mengenai penerbitan buku,” ceritanya.

Tulisan di koran itu pun diconteknya untuk memenuhi tugas yang didapatnya. Pada hari yang telah ditetapkan, dengan penuh percaya diri, istri Nurmasni ini mengangkat tangan untuk bersedia menjadi orang yang paling awal mempresentasikan tugas yang dibuatnya. Seisi kelas pun jadi ternganga. Dia pun dianggap orang yang paling pintar dan menguasai tentang penerbitan buku di antara temannya.

Namun sayang, dia gagal dalam ujian semester meski soal yang diberikan merupakan tugas yang dipresentasikannya sendiri beberapa waktu lampau. “Saya gagal karena ceroboh dan sombong. Karena merasa menguasai, saya jadi menganggap remeh sehingga jadi takabur,” katanya.

Kejadian itulah yang memukul ketekaburannya. Mulai dari itu, dia bertekad untuk tidak takabur. Dan kertas koran bekas bungkusan cabe tersebut disimpannya baik-baik, untuk mengingatkannya agar tidak sombong. Tidak sampai di situ, semenjak kejadian itu dia mulai menyimpan setiap bungkusan koran atau majalah yang menurutnya ada unsur ilmu pengetahuan dan keterampilan, seteleh dibaca.

“Nah dari sana mulailah saya jadi pemulung betulan. Tidak hanya barang cetakan dan rekaman yang saya kumpulkan. Sampah di sekeliling rumah juga saya kumpulkan untuk dijadikan barang yang berguna,” ujar ibu empat orang anak ini.

Di antara berbagai macam jenis sampah salah satunya sampai jahitan. Kain-kain sisa jahitan dibuatnya lap tangan, alas meja cantik, isi bantal, selimut dan untuk berbagai keperluan lainnya. Berkaitan dengan profesinnya, dia juga menjadi pemulung ilmu pengetahuan. Apabila ada buku, majalah, dan koran, baik dari teman atau dari mana saja, asalkan ada informasi bermanfaat akan diambilnya untuk koleksi.

“Dengan bermodal kemauan, hobi dan juga profesi yang saya geluti, maka terkumpullah banyak buku, majalah, dan koran sehingga bisa membangun pustaka seperti sekarang,” ungkapnya.

Ia meyakini, upayanya itu masih sangat diperlukan sekalipun arus informasi kini dengan bebasnya melaju di jaringan internet. Apalagi akses banyak orang pada sumber-sumber bacaan bermutu secara gratis masih teramat sedikit. [ padangekspres.co.id ]